Rabu, 18 Februari 2015

Suamiku Ternyata Suka Menganiaya


Kebahagiaanku sebagai seorang istri tak lama aku nikmati. Sebuah perjodohan mengharuskan aku menerima laki-laki yang selama ini tak pernah aku kenal. Laki-laki yang sopan, cerdas, dan pekerja keras itu ternyata suka menganiayaku.

Pembaca NURANi yang dirahmati oleh Allah SWT. Perkenalkan, namaku Ayu (bukan nama sebenarnya). Aku tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Genap sebulan lalu aku resmi menjadi seorang janda muda. Semua ini karena orang tuaku yang memaksa aku menikah. Mereka pula yang memaksa aku untuk bercerai. Sebagai seorang anak gadis yang wajib menurut pada orang tua, aku tak bisa menolak perintah mereka. Aku hanya berdoa, keputusan ini adalah keputusan yang tepat dan Allah SWT selalu memberikan aku kesabaran.
AKU DAN KELUARGA
Aku terlahir di keluarga yang cukup berada dan terpandang di desaku. Sejak kecil tingkah lakuku diatur oleh orang tua. Sejak kecil hingga dewasa aku hidup di lingkungan pesantren. Aku habiskan hidup untuk pengabdian, menjadi pengajar di sebuah pesantren yang membesarkan dan memberikan aku ilmu selama ini.
Hampir dua belas tahun lebih hidupku aku habiskan dengan berbagai ritual kegamaan. Teman-teman sepermainanku pun sebatas santri-santri dan para ustad yang juga tinggal di pondok. Di usiaku yang saat itu masih 23 tahun, mempunyai kekasih dan menikmati masa-masa remaja seperti remaja kebanyakan sama sekali tak pernah terbesit dalam benakku.
Bercita-cita tinggi menjadi seorang wanita karier pun sama sekali tak ada keinginan. Bagiku, dengan mengabdikan diri, belajar agama adalah hal yang mengasyikkan, tidak ada yang lain. Aku pun selalu ingat kata-kata yang selalu orang tuaku bilang, nantinya kamu sebagai seorang anak gadis, setinggi apapun cita-cita dan kariermu, tugasmu adalah kembali ke rumah dan melayani seorang suami.
Jangankan mempunyai pacar, kenalan teman laki-laki pun aku tak punya. Satu dua kali sempat curi-curi pandang ke teman laki-laki yang tinggal di pondok putra di sebuah acara. Namun buatku tak ada yang spesial, aku tak ada hasrat untuk berpacaran dan mengenal laki-laki lebih dalam. Sampai akhirnya, datang seorang laki-laki yang tak kukenal meminang aku melalui proses perjodohan di antara kedua orang tua kami.

AKU DIJODOHKAN
Tak ada kabar sebelumnya yang datang kepadaku. Tiba-tiba orang tuaku menghubungi dan memintaku untuk segera pulang. Aku pun mengiyakan permintaannya. Ternyata saat aku pulang, segala sesuatu telah dipersiapkan oleh orang tuaku, sebuah perjodohan. Sebuah pernikahan indah pun sudah mereka rencanakan.
Laki-laki itu bernama Lukman, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Aku tak mengenalnya, namun orang tuaku amat sangat mengenalnya. Dari cerita orang tuaku selama ini, Mas Lukman adalah pemuda yang saleh, pekerja keras, dan sopan.  Keluarganya pun sama seperti keluragaku, merupakan orang terpandang di desa kami. Bisa dibilang pernikahan kami adalah pernikahan yang berbau kasta.
Aku secara pribadi tidak pernah mempermasalahkan siapa yang menjadi suamiku, orang kayakah, orang miskinkah, aku tak peduli. Jika memang orang tuaku suka dan merestui, aku pun ikut keputusan mereka. Meskipun satu kampung, aku tidak pernah mengenal Mas Lukman. Maklum saja ketika aku pulang ke rumah, aku tidak pernah keluar rumah. Bisa dibilang kuper. Keluar jika ada sebuah  kegiatan pengajian dan masjelis taklim saja. Selebihnya aku habiskan waktu di rumah.
Perkenalanku dengan Mas Lukman melalui ta’aruf. Sebuah pernikahan megah pun digelar. Usai menikah, aku dan Mas Lukman tinggal berdua. Sebuah rumah sudah siap sedia untuk kami tempati. Tanpa pacaran, tanpa mengenal bagaimana watak dan sikap sebenarnya suamiku ini, aku dengan ikhlas menjalani takdir yang Tuhan berikan kepadaku

SUAMIKU KASAR
Kebahagiaan orang tuaku ternyata tidak menjadi kebahagiaanku. Usai menikah dan tinggal berdua mengarungi bahtera rumah tangga bersama Mas Lukman beberapa bulan, ternyata sikap asli Mas Lukman muncul. Dia memang laki-laki yang cerdas, sopan terhadap orang yang lebih tua, dan pekerja keras. Namun siapa sangka, ada sifat yang sangat tempramental. Hampir enam bulan ini aku menjadi bulan-bulanannya.
Selama aku menikah, aku tak diperbolehkan bekerja. Ketika sore hari saja, jika senggang aku pergi ke musala untuk mengajar ngaji anak-anak. Sedangkan Mas Lukman, dia melanjutkan bisnis ayahnya. Satu hari sikap Mas Lukmana sangat lembut kapadaku, memberikan kasih sayang layaknya seoranag suami. Namun, di lain waktu, sikapnya seperti macan kelaparan. Aku tak tahu kenapa dia begitu, kadang lembut kadang sangat kasar. Bahkan bisa dibilang amat kasar.
Pernah suatu ketika, saat bangun pagi dan memasakkan makanan untuknya sebelum berangkat kerja, tiba-tiba dia marah dan kalap. Semua makanan di atas meja ia banting dan melukai tanganku. Tanpa sebuah alas an, dia marah-marah. Tak ada penjelasan apapun.
Tidak hanya sekali hal seperti ini terjadi. Gara-gara sebuah sepatu yang entah lupa ditaruh di mana dan terburu-buru berangkat, ia marah dan memukul aku dengan tangannya. Hal inipun sering ia lakukan. Hal-hal kecil selalu marah dan menggunakan kekerasan. Namun, usai memukul aku, dia minta maaf dan kelembutan-kelembutan ia berikan kepadaku.
Selama itu aku sama sekali tidak pernah bercerita kepada orang tuaku. Aku memilih diam. Kabar yang terdengar di luar sana, keluargaku sangat harmonis dan bahagia.
Suatu ketika, Mas Lukman memukulku dan bekas lebam awet menempel di wajahku. Selama itupula aku tak pernah pergi berkunjung ke rumah orang tuaku. Mereka pun berfikir aku baik-baik saja dan banyak kesibukan. Mas Lukman pun terus berkomunkasi dengan mereka, menggabarkan bahwa aku baik-baik saja.

KEPUTUSAN BERCERAI
Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Begitu pula dengan keadaannku. Akhirnya orang tuaku mengetahui bagaimana keadaanku yang sebenarnya bahwa selama ini Mas Lukman sering sekali memukulku.
Orang tuaku pun meminta penjelasan, akupun menceritakan bagaimana sikap Mas Lukman kepadakau. Mendengar menjelasan dariku, orang tuaku pun menangis, ternyata selama ini anak semata wayangnya menderita akibat laki-laki pilihan mereka.
Melihat keadaanku yang demikian, orang tuaku memberikan nasihat agar aku meminta cerai dari Mas Lukman. Ia tidak rela ananknya terus tersiksa dan hidup bersama orang temperamental. Aku sebagai anak tidak bisa berbuat apapun dan menuruti saran mereka. Akirnya aku resmi bercerai dengan Mas Lukman. *02/Is (sebagaimana penuturan Ayu pada tabloid NURANi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar