Kebahagiaanku
sebagai seorang istri tak lama aku nikmati. Sebuah perjodohan mengharuskan aku
menerima laki-laki yang selama ini tak pernah aku kenal. Laki-laki yang sopan,
cerdas, dan pekerja keras itu ternyata suka menganiayaku.
Pembaca NURANi
yang dirahmati oleh Allah SWT. Perkenalkan, namaku Ayu (bukan nama sebenarnya).
Aku tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Genap sebulan lalu aku resmi
menjadi seorang janda muda. Semua ini karena orang tuaku yang memaksa aku
menikah. Mereka pula yang memaksa aku untuk bercerai. Sebagai seorang anak
gadis yang wajib menurut pada orang tua, aku tak bisa menolak perintah mereka.
Aku hanya berdoa, keputusan ini adalah keputusan yang tepat dan Allah SWT
selalu memberikan aku kesabaran.
Aku terlahir di
keluarga yang cukup berada dan terpandang di desaku. Sejak kecil tingkah lakuku
diatur oleh orang tua. Sejak kecil hingga dewasa aku hidup di lingkungan
pesantren. Aku habiskan hidup untuk pengabdian, menjadi pengajar di sebuah
pesantren yang membesarkan dan memberikan aku ilmu selama ini.
Hampir dua belas
tahun lebih hidupku aku habiskan dengan berbagai ritual kegamaan. Teman-teman
sepermainanku pun sebatas santri-santri dan para ustad yang juga tinggal di
pondok. Di usiaku yang saat itu masih 23 tahun, mempunyai kekasih dan menikmati
masa-masa remaja seperti remaja kebanyakan sama sekali tak pernah terbesit
dalam benakku.
Bercita-cita
tinggi menjadi seorang wanita karier pun sama sekali tak ada keinginan. Bagiku,
dengan mengabdikan diri, belajar agama adalah hal yang mengasyikkan, tidak ada
yang lain. Aku pun selalu ingat kata-kata yang selalu orang tuaku bilang,
nantinya kamu sebagai seorang anak gadis, setinggi apapun cita-cita dan
kariermu, tugasmu adalah kembali ke rumah dan melayani seorang suami.
Jangankan
mempunyai pacar, kenalan teman laki-laki pun aku tak punya. Satu dua kali
sempat curi-curi pandang ke teman laki-laki yang tinggal di pondok putra di
sebuah acara. Namun buatku tak ada yang spesial, aku tak ada hasrat untuk
berpacaran dan mengenal laki-laki lebih dalam. Sampai akhirnya, datang seorang
laki-laki yang tak kukenal meminang aku melalui proses perjodohan di antara
kedua orang tua kami.
AKU DIJODOHKAN
Tak ada kabar
sebelumnya yang datang kepadaku. Tiba-tiba orang tuaku menghubungi dan memintaku
untuk segera pulang. Aku pun mengiyakan permintaannya. Ternyata saat aku
pulang, segala sesuatu telah dipersiapkan oleh orang tuaku, sebuah perjodohan.
Sebuah pernikahan indah pun sudah mereka rencanakan.
Laki-laki itu
bernama Lukman, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Aku tak mengenalnya, namun
orang tuaku amat sangat mengenalnya. Dari cerita orang tuaku selama ini, Mas
Lukman adalah pemuda yang saleh, pekerja keras, dan sopan. Keluarganya pun sama seperti keluragaku,
merupakan orang terpandang di desa kami. Bisa dibilang pernikahan kami adalah
pernikahan yang berbau kasta.
Aku secara
pribadi tidak pernah mempermasalahkan siapa yang menjadi suamiku, orang
kayakah, orang miskinkah, aku tak peduli. Jika memang orang tuaku suka dan
merestui, aku pun ikut keputusan mereka. Meskipun satu kampung, aku tidak
pernah mengenal Mas Lukman. Maklum saja ketika aku pulang ke rumah, aku tidak
pernah keluar rumah. Bisa dibilang kuper. Keluar jika ada sebuah kegiatan pengajian dan masjelis taklim saja.
Selebihnya aku habiskan waktu di rumah.
Perkenalanku
dengan Mas Lukman melalui ta’aruf. Sebuah pernikahan megah pun digelar. Usai
menikah, aku dan Mas Lukman tinggal berdua. Sebuah rumah sudah siap sedia untuk
kami tempati. Tanpa pacaran, tanpa mengenal bagaimana watak dan sikap
sebenarnya suamiku ini, aku dengan ikhlas menjalani takdir yang Tuhan berikan
kepadaku
SUAMIKU KASAR
Kebahagiaan
orang tuaku ternyata tidak menjadi kebahagiaanku. Usai menikah dan tinggal
berdua mengarungi bahtera rumah tangga bersama Mas Lukman beberapa bulan,
ternyata sikap asli Mas Lukman muncul. Dia memang laki-laki yang cerdas, sopan
terhadap orang yang lebih tua, dan pekerja keras. Namun siapa sangka, ada sifat
yang sangat tempramental. Hampir enam bulan ini aku menjadi bulan-bulanannya.
Selama aku
menikah, aku tak diperbolehkan bekerja. Ketika sore hari saja, jika senggang
aku pergi ke musala untuk mengajar ngaji anak-anak. Sedangkan Mas Lukman, dia
melanjutkan bisnis ayahnya. Satu hari sikap Mas Lukmana sangat lembut kapadaku,
memberikan kasih sayang layaknya seoranag suami. Namun, di lain waktu, sikapnya
seperti macan kelaparan. Aku tak tahu kenapa dia begitu, kadang lembut kadang
sangat kasar. Bahkan bisa dibilang amat kasar.
Pernah suatu
ketika, saat bangun pagi dan memasakkan makanan untuknya sebelum berangkat
kerja, tiba-tiba dia marah dan kalap. Semua makanan di atas meja ia banting dan
melukai tanganku. Tanpa sebuah alas an, dia marah-marah. Tak ada penjelasan
apapun.
Tidak hanya
sekali hal seperti ini terjadi. Gara-gara sebuah sepatu yang entah lupa ditaruh
di mana dan terburu-buru berangkat, ia marah dan memukul aku dengan tangannya.
Hal inipun sering ia lakukan. Hal-hal kecil selalu marah dan menggunakan
kekerasan. Namun, usai memukul aku, dia minta maaf dan kelembutan-kelembutan ia
berikan kepadaku.
Selama itu aku
sama sekali tidak pernah bercerita kepada orang tuaku. Aku memilih diam. Kabar
yang terdengar di luar sana, keluargaku sangat harmonis dan bahagia.
Suatu ketika,
Mas Lukman memukulku dan bekas lebam awet menempel di wajahku. Selama itupula
aku tak pernah pergi berkunjung ke rumah orang tuaku. Mereka pun berfikir aku
baik-baik saja dan banyak kesibukan. Mas Lukman pun terus berkomunkasi dengan
mereka, menggabarkan bahwa aku baik-baik saja.
KEPUTUSAN
BERCERAI
Sepandai-pandai
orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Begitu pula dengan
keadaannku. Akhirnya orang tuaku mengetahui bagaimana keadaanku yang sebenarnya
bahwa selama ini Mas Lukman sering sekali memukulku.
Orang tuaku pun
meminta penjelasan, akupun menceritakan bagaimana sikap Mas Lukman kepadakau.
Mendengar menjelasan dariku, orang tuaku pun menangis, ternyata selama ini anak
semata wayangnya menderita akibat laki-laki pilihan mereka.
Melihat
keadaanku yang demikian, orang tuaku memberikan nasihat agar aku meminta cerai
dari Mas Lukman. Ia tidak rela ananknya terus tersiksa dan hidup bersama orang
temperamental. Aku sebagai anak tidak bisa berbuat apapun dan menuruti saran
mereka. Akirnya aku resmi bercerai dengan Mas Lukman. *02/Is (sebagaimana
penuturan Ayu pada tabloid NURANi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar