Rabu, 18 Februari 2015

Suamiku Lebih Memilih Pembantuku


Bertahun-tahun mengarungi rumah tangga yang harmonis, ternyata aku tak siap dengan kemungkinan terburuk. Tak pernah kuduga, suamiku bermain api dengan pembantuku. Walau mengaku khilaf, suamiku tak pernah berusaha mencegah ketika aku minta cerai. Dia lebih memilih hidup dengan pembantuku yang pernah aku tolong dari jurang kenistaan itu.

Di luar, rupanya hujan sejak sore membuat dingin menyelimuti Jakarta. Sambil menikmati kesejukkan, kulihat kedua buah hatiku di kursi belakang berulangkali menguap. Aku tahu jika mereka belum bisa tidur karena lapar. Kami pun menuju ke sebuah restoran keluarga sederhana. Tak ada yang berubah sedikit pun di restoran ini. Meja, kursi, kilau lampu warna-warni, pintu dengan kesan kuno dan bersejarah, rambut pelayan yang sudah memutih, tetap saja sama. Aku menjadi larut dalam kenangan indah saat kali pertama makan malam bersama Bang Adit, suamiku. Oya, sebut saja namaku Safira, dulu, sekitar dua dekade, tempat inilah yang turut menjadi saksi ketika Bang Adit meminangku.
Malam itu merupakan kebahagiaan tiada tara. Lengkap sudah rasanya anugerah yang diberikan Allah kepadaku. Aku bersyukur mendapatkan suami yang pengertian. Lebih dari itu, kedua anakku yang selalu menghiburku di kala susah dan senang. Bahkan, kebahagiaan kami juga makin sempurna ketika kami mengangkat seorang anak lagi yang membawa suasana menjadi lebih ramai. Anak angkat kami itu bernama Lily, usianya setahun lebih tua dari anakku yang duduk di bangku kelas 2 SD.

PEMBANTU BARU
Selama berkeluarga, kehidupanku memang bisa dibilang sejahtera. Secara finansial, aku tak pernah kekurangan sedikit pun. Alhamdulillah, semuanya serba berkecukupan. Di rumah, sudah seminggu ini aku tak mempekerjakan pembantu. Bi Ina mengundurkan diri karena merasa sudah tidak kuat lagi bekerja. Usianya 65 tahun membuatnya sering sakit-sakitan. Semua keperluan rumah tangga, aku sendiri yang mengurusi.
Ternyata tidak mudah. Apalagi aku harus berangkat kerja setelah anak-anak sekolah. Yang menjadi pikiranku yakni ketika anak-anak sudah pulang. Tentu aku sangat kasihan. Akhirnya kuputuskan untuk meminta izin kepada Bang Adit agar mempekerjakan pembantu lagi. Kami sepakat untuk mencari pembantu di sebuah panti.
Hampir seminggu lebih akhirnya aku menemukan seorang pembantu yang bernama Marie. Jika dilihat riwayatnya, ia memiliki masa kelam sebagai wanita tuna susila. Marie berusia sekitar 37 tahun. Pekerjaan yang hina itu sudah ditinggalkanya sejak usia 34 tahun. Ia menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang halal, termasuk menjadi pembantu. Aku senang karena ia mau bertobat. Aku tidak mempermasalahkan masa lalunya yang  buruk. Entah kenapa aku begitu yakin dia mampu mengurusi rumah tanggaku.



SUAMI & PEMBANTUKU
Semenjak ada Marie, semua urusan rumah tangga dijalankan dengan rapi. Namun, ada sedikit hal yang mengganggu pikiranku, yakni kebiasaan Marie berpakaian agak terbuka. “Mar, tolong kalau pakaian jangan seperti ini. Pakai pakaian tertutup ya,” saranku agar Marie tidak memakai baju dengan belahan dada rendah kala itu. Meski aku  yakin dengan suamiku sendiri, tapi aku harus mengingatkan pembantuku ini.
Dua tahun berlalu, ada sedikit perasaan curiga dengan pembantuku ini. Hal itu kuamati saat Jumat siang. Biasanya Bang Adit seusai shalat Jumat selalu mampir pulang ke rumah untuk melihat anak-anak. Kebetulan juga, karena ada rapat di luar, aku menyempatkan pulang ke rumah juga agar bisa bertemu Bang Adit. Aku sedikit terkejut melihat pakaian Marie yang sangat terbuka. Padahal, sewaktu aku berangkat kerja, ia menggunakan pakaian tertutup. Namun aku mencoba untuk tidak berprasangka buruk.
Semakin lama dugaan ini menguat jika ada yang aneh dengan suamiku ini. “Jangan-jangan suamiku selingkuh atau memang sudah tidur dengan Marie? Ah, gak mungkin deh. Tapi bisa saja terjadi. Apalagi Marie selalu menggunakan pakaian seksi,” kata batinku yang terus menerka.

KAMI BERCERAI
Pagi itu kulihat wajah Marie sungguh pucat, persis seperti orang sakit. Ketika kutanya, ia menjawab benar jika dirinya memang sedang masuk angin. Ia sendiri muntah-muntah dan batuk. Sedikitpun aku tak curiga. Namun seminggu berlalu, anehnya Marie tetap muntah-muntah. Apakah masuk angin selama itu? jangan-jangan..., Marie hamil? Perasaanku semakin risau. Rasanya ingin meledak saja hatiku ini jika kenyataan itu benar. Tentu aku harus mencari jawaban yang sebenarnya dengan tidak menyakiti hati suamiku. Aku tak mau asal menuduh. Sampai pada akhirnya aku tidak bisa menunggu lama lagi. Marie kuserang dengan pertanyaan bertubi-tubi, apakah benar dia hamil.
“Iya Bu. Saya sedang hamil. Pak Adit adalah ayah dari bayi yang saya kandung ini,” ungkapnya dengan wajak tertunduk.
Astagfirullah... Ya Allah, katakanlah jika ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan sebenarnya. Aku tak kuat jika ini kenyataannya. Namun aku tidak bisa mengelak lagi ketika Bang Adit juga mengakui perbuatan hina itu.  “Aku khilaf, Ma. Sungguh aku khilaf,” katanya.
Inilah kenyataan pahit yang harus aku rasakan. Perasaan hancur mendera di setiap titik tubuhku. Sekejap tubuh ini lemas seperti ingin mati saja aku. Benar-benar aku tak bisa percaya. “Penghianat kamu Marie! Di saat kamu memelas agar kamu bisa jadi pembantuku, aku ikhlas menolongmu. Dan kamu juga Adit! Cinta suci yang kamu ucapkan di hadapan Allah, kamu dustai sendiri. Ceraikan aku saat ini!”
Hancur sudah kehidupan keluargaku. Bagai permata yang hancur dan terbakar tiada nilainya sedikit pun. Ya, aku sadar. Selama perjalanan hidupku, tak sedikitpun Allah memberikan cobaan padaku. Tapi kali ini Allah mengujiku dengan cara yang berbeda. Allah telah membinasakan semua kebahagiaan keluargaku. Setahun berlalu, perceraian itu belum bisa aku lupakan. Kini, aku hanya bisa menangisi penghianatan itu. Semoga kesedihan itu cepat berlalu. *02/Bag (Seperti dikisahkan Safira kepada tabloid NURANi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar