Bertahun-tahun mengarungi rumah tangga yang harmonis, ternyata aku tak
siap dengan kemungkinan terburuk. Tak pernah kuduga, suamiku bermain api dengan
pembantuku. Walau mengaku khilaf, suamiku tak pernah berusaha mencegah ketika
aku minta cerai. Dia lebih memilih hidup dengan pembantuku yang pernah aku
tolong dari jurang kenistaan itu.
Di luar, rupanya
hujan sejak sore membuat dingin menyelimuti Jakarta. Sambil menikmati
kesejukkan, kulihat kedua buah hatiku di kursi belakang berulangkali menguap.
Aku tahu jika mereka belum bisa tidur karena lapar. Kami pun menuju ke sebuah
restoran keluarga sederhana. Tak ada yang berubah sedikit pun di restoran ini.
Meja, kursi, kilau lampu warna-warni, pintu dengan kesan kuno dan bersejarah,
rambut pelayan yang sudah memutih, tetap saja sama. Aku menjadi larut dalam
kenangan indah saat kali pertama makan malam bersama Bang Adit, suamiku. Oya, sebut saja namaku Safira, dulu, sekitar dua dekade, tempat
inilah yang turut menjadi saksi ketika Bang Adit meminangku.
Malam itu
merupakan kebahagiaan tiada tara. Lengkap sudah rasanya anugerah yang diberikan
Allah kepadaku. Aku bersyukur mendapatkan suami yang pengertian. Lebih dari
itu, kedua anakku yang selalu menghiburku di kala susah dan senang. Bahkan, kebahagiaan kami juga makin sempurna ketika kami mengangkat
seorang anak lagi yang membawa suasana menjadi lebih ramai. Anak angkat kami
itu bernama Lily, usianya setahun lebih tua dari anakku yang duduk di bangku
kelas 2 SD.
PEMBANTU BARU
Selama berkeluarga,
kehidupanku memang bisa dibilang sejahtera. Secara finansial, aku tak pernah
kekurangan sedikit pun. Alhamdulillah, semuanya serba berkecukupan. Di rumah,
sudah seminggu ini aku tak mempekerjakan pembantu. Bi Ina mengundurkan diri
karena merasa sudah tidak kuat lagi bekerja. Usianya 65 tahun membuatnya sering
sakit-sakitan. Semua keperluan rumah tangga, aku sendiri yang mengurusi.
Ternyata tidak
mudah. Apalagi aku harus berangkat kerja setelah anak-anak sekolah. Yang
menjadi pikiranku yakni ketika anak-anak sudah pulang. Tentu aku sangat
kasihan. Akhirnya kuputuskan untuk meminta izin kepada Bang Adit agar
mempekerjakan pembantu lagi. Kami sepakat untuk mencari pembantu di sebuah
panti.
Hampir seminggu
lebih akhirnya aku menemukan seorang pembantu yang bernama Marie. Jika dilihat
riwayatnya, ia memiliki masa kelam sebagai wanita tuna susila. Marie berusia
sekitar 37 tahun. Pekerjaan yang hina itu sudah ditinggalkanya sejak usia 34
tahun. Ia menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang halal, termasuk menjadi
pembantu. Aku senang karena ia mau bertobat. Aku tidak mempermasalahkan masa
lalunya yang buruk. Entah kenapa aku
begitu yakin dia mampu mengurusi rumah tanggaku.
SUAMI & PEMBANTUKU
Semenjak ada
Marie, semua urusan rumah tangga dijalankan dengan rapi. Namun, ada sedikit hal yang mengganggu pikiranku, yakni kebiasaan Marie
berpakaian agak terbuka. “Mar, tolong kalau pakaian jangan
seperti ini. Pakai pakaian tertutup ya,” saranku agar Marie tidak memakai baju
dengan belahan dada rendah kala itu. Meski aku yakin dengan suamiku sendiri, tapi aku harus
mengingatkan pembantuku ini.
Dua tahun
berlalu, ada sedikit perasaan curiga dengan pembantuku ini. Hal itu kuamati
saat Jumat siang. Biasanya Bang Adit seusai shalat Jumat selalu mampir pulang
ke rumah untuk melihat anak-anak. Kebetulan juga, karena ada rapat di luar, aku
menyempatkan pulang ke rumah juga agar bisa bertemu Bang Adit. Aku sedikit
terkejut melihat pakaian Marie yang sangat terbuka. Padahal, sewaktu aku
berangkat kerja, ia menggunakan pakaian tertutup. Namun aku mencoba untuk tidak
berprasangka buruk.
Semakin lama
dugaan ini menguat jika ada yang aneh dengan suamiku ini. “Jangan-jangan
suamiku selingkuh atau memang sudah tidur dengan Marie? Ah, gak mungkin deh.
Tapi bisa saja terjadi. Apalagi Marie selalu menggunakan pakaian seksi,” kata
batinku yang terus menerka.
KAMI BERCERAI
Pagi itu kulihat
wajah Marie sungguh pucat, persis seperti orang sakit. Ketika kutanya, ia
menjawab benar jika dirinya memang sedang masuk angin. Ia sendiri muntah-muntah
dan batuk. Sedikitpun aku tak curiga. Namun seminggu berlalu, anehnya Marie
tetap muntah-muntah. Apakah masuk angin selama itu? jangan-jangan..., Marie
hamil? Perasaanku semakin risau. Rasanya ingin meledak saja hatiku ini jika
kenyataan itu benar. Tentu aku harus mencari jawaban yang sebenarnya dengan
tidak menyakiti hati suamiku. Aku tak mau asal menuduh. Sampai pada akhirnya
aku tidak bisa menunggu lama lagi. Marie kuserang dengan pertanyaan
bertubi-tubi, apakah benar dia hamil.
“Iya Bu. Saya sedang
hamil. Pak Adit adalah ayah dari bayi yang saya kandung ini,” ungkapnya dengan
wajak tertunduk.
Astagfirullah...
Ya Allah, katakanlah jika ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan sebenarnya. Aku
tak kuat jika ini kenyataannya. Namun aku tidak bisa mengelak lagi ketika Bang
Adit juga mengakui perbuatan hina itu. “Aku khilaf, Ma. Sungguh aku khilaf,”
katanya.
Inilah kenyataan
pahit yang harus aku rasakan. Perasaan hancur mendera di setiap
titik tubuhku. Sekejap tubuh ini lemas seperti ingin mati saja aku. Benar-benar
aku tak bisa percaya. “Penghianat kamu Marie! Di saat
kamu memelas agar kamu bisa jadi pembantuku, aku ikhlas menolongmu. Dan kamu
juga Adit! Cinta suci yang kamu ucapkan di hadapan Allah, kamu dustai sendiri.
Ceraikan aku saat ini!”
Hancur sudah
kehidupan keluargaku. Bagai permata yang hancur dan terbakar tiada nilainya
sedikit pun. Ya, aku sadar. Selama perjalanan hidupku, tak sedikitpun Allah
memberikan cobaan padaku. Tapi kali ini Allah mengujiku dengan cara yang
berbeda. Allah telah membinasakan semua kebahagiaan keluargaku. Setahun
berlalu, perceraian itu belum bisa aku lupakan. Kini, aku
hanya bisa menangisi
penghianatan itu. Semoga kesedihan itu cepat berlalu. *02/Bag (Seperti
dikisahkan Safira kepada tabloid NURANi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar