Demi cinta dan pengabdianku
kepada suami, aku rela melepas karier yang telah kubangun bertahun-tahun.
Namun, ketika seluruh hidupku untuknya, suamiku malah menceraikanku, bahkan
ketika aku sedang hamil dari pernikahan kami.
Udah jatuh tertimpa tangga.
Itulah masalah yang aku alami beberapa minggu lalu. Sebelumnya, sebut saja
namaku Sa’adah, tinggal di sebuah kota terpencil di Jawa Timur. Tak kusangka,
keharmonisan dalam berumah tangga yang baru saja aku lalui bersama suami, nyatanya
kandas juga. Semua orang pun turut menyangkal kenyataan ini, lebih-lebih aku
dan keluargaku.
Maklum, sudah cukup lama aku
punya impian untuk menikah. Namun sayang, kebahagiaan sebagai suami-istri yang
aku rasakan selama itu ternyata tidak sesuai harapan. Entahlah, meski sudah
cukup banyak pengorbanan yang aku
lakukan, tetap saja suamiku memilih untuk bercerai.
MELEPAS KARIER
Sebelum menikah, sebenarnya sudah
bertahun-tahun aku menjadi seorang wanita karier di sebuah perusahaan kosmetik.
Padatnya aktivitas di tempat kerja setiap hari membuat aku termasuk paling
akhir menikah dibanding teman-temanku yang lain. Di antara teman-temanku sudah
banyak yang menikah, bahkan sudah punya anak.
Wajar kalau orang tuaku selalu
mendorongku untuk segera menerima seseorang untuk dijadikan imam dalam rumah
tanggaku. Berkali-kali aku gagal menikah karena merasa tidak sesuai. Namun,
setelah aku kenal dengan seorang pria bernama Riyadi, tampaknya aku sulit untuk
menolak lamaran orang itu.
Meski usianya sedikit lebih muda
dariku, kedua orang tuaku sangat menyukainya. Disamping karena ia lahir dari
keluarga yang cukup terhormat, ketampanan pria itu rasanya sudah mulai memikat
hatiku. Itu sebabnya aku langsung menyatakan setuju saat keluarga kami
membicarakan waktu pernikahan.
Beberapa bulan kemudian, kami pun
resmi menikah. Rasanya aku benar-benar hidup di dunia yang baru, lebih-lebih
karena Mas Riyadi selalu memberikan perhatian penuh untukku. Meski keberadaanku
masih tetap sebagai wanita karier, ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Bahkan, setiap hari ia biasa mengantar dan menjemputku di tempat kerja.
Namun, belakangan aku mulai
berubah pikiran. Sebagai seorang istri, aku merasa perlu lebih banyak
mendampingi suami daripada menghabiskan waktu di tempat kerja. Lebih-lebih
karena aku sadar bahwa secara ekonomi, Mas Riyadi sudah cukup sehingga aku
tidak perlu bekerja lagi, melainkan fokus melayani suami di rumah.
Pertimbangan itulah yang membuat
aku akhirnya memutuskan resign dari tempat kerja. Aku sudah sangat bersyukur
atas kehadiran suamiku dan merasa sudah saatnya memberikan waktu penuh untuknya
di rumah. Sehari-hari aku hanya banyak menghabiskan waktu di rumah dengan
membereskan tempat tidur, memasak, membersihkan halaman rumah, dan sebagainya.
Sebagai orang yang sangat
menyayangi suami, setiap hari aku selalu menunggu kedatangan Mas Riyadi dari
kantornya atau ketika ia sedang meeting di luar kota. Kadang diri ini tidak
tenang saat ia datang terlalu malam dan SMS-ku tidak dibalas. Rasanya wajar
kalau aku sering komplain karena kekhawatiran itu.
Namun, sikapku yang demikian itu
ternyata tidak cocok pada diri Mas Riyadi. Setiap kali aku menanyakan,
seringkali ia emosi dan menganggapku terlalu posesif. Padahal apa yang aku
lakukan itu tidak lain hanyalah sebagai bentuk rasa cinta dan kasih sayangku padanya.
Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya.
Suatu ketika ia sedang mendatangi
acara di Surabaya hingga dua hari meninggalkan rumah. Kegelisahan yang aku
rasakan pun membuatku bertanya-tanya, kenapa hingga dua hari? Seringnya
kegiatan di luar kota, Mas Riyadi pun akhirnya membuat aku semakin tidak
tenang. Kadang aku komplain agar Mas Riyadi tidak bermalam di luar selama
acaranya masih bisa dipercepat. Namun, sikapku yang demikian lagi-lagi
ditanggapi negatif. Itu sebabnya diri ini kadang juga larut dalam emosi karena
aku merasa bahwa perhatianku selama ini kurang berarti baginya.
Tapi entahlah, sikap emosi yang
aku tampakkan padanya justru membuat suasana semakin keruh. Tiba-tiba saja Mas Riyadi
memilih pulang ke rumah keluarganya hingga berhari-hari tidak mau kembali.
Berkali-kali keluargaku mencoba untuk membujuknya agar kembali, namun tiada
hasil.
Bahkan, beberapa hari kemudian, Mas
Riyadi melontarkan kata-kata mengejutkan. Tiba-tiba saja ia menyatakan cerai.
Padahal ketika itu aku sudah positif hamil tiga bulan. Sungguh, pernyataan itu
membuat aku seperti disambar petir. Aku yang selama ini selalu menunggu
kelahiran momongan, ternyata janin dalam perutku sudah lebih dulu ditinggal
ayah kandungnya.
Prihatin memang. Tapi, apalah
daya, pernyataan cerai dari diri Mas Riyadi sudah tidak bisa ditarik lagi. Sejak
itulah aku merasa kehilangan semuanya. Pengorbanan yang aku lakukan selama ini
terasa telah sia-sia. Bahkan, aku harus menanggung bayi dalam kandungan.
Mudah-mudahan saja aku diberikan kesabaran menghadapi semua ini. *02-kur (sebagaimana penuturan Sa’adah
kepada NURANi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar