Rabu, 18 Februari 2015

Kulepas Karier, Aku Malah Dicerai saat Hamil


Demi cinta dan pengabdianku kepada suami, aku rela melepas karier yang telah kubangun bertahun-tahun. Namun, ketika seluruh hidupku untuknya, suamiku malah menceraikanku, bahkan ketika aku sedang hamil dari pernikahan kami.

Udah jatuh tertimpa tangga. Itulah masalah yang aku alami beberapa minggu lalu. Sebelumnya, sebut saja namaku Sa’adah, tinggal di sebuah kota terpencil di Jawa Timur. Tak kusangka, keharmonisan dalam berumah tangga yang baru saja aku lalui bersama suami, nyatanya kandas juga. Semua orang pun turut menyangkal kenyataan ini, lebih-lebih aku dan keluargaku.
Maklum, sudah cukup lama aku punya impian untuk menikah. Namun sayang, kebahagiaan sebagai suami-istri yang aku rasakan selama itu ternyata tidak sesuai harapan. Entahlah, meski sudah cukup banyak pengorbanan yang aku  lakukan, tetap saja suamiku memilih untuk bercerai.

MELEPAS KARIER
Sebelum menikah, sebenarnya sudah bertahun-tahun aku menjadi seorang wanita karier di sebuah perusahaan kosmetik. Padatnya aktivitas di tempat kerja setiap hari membuat aku termasuk paling akhir menikah dibanding teman-temanku yang lain. Di antara teman-temanku sudah banyak yang menikah, bahkan sudah punya anak.
Wajar kalau orang tuaku selalu mendorongku untuk segera menerima seseorang untuk dijadikan imam dalam rumah tanggaku. Berkali-kali aku gagal menikah karena merasa tidak sesuai. Namun, setelah aku kenal dengan seorang pria bernama Riyadi, tampaknya aku sulit untuk menolak lamaran orang itu.
Meski usianya sedikit lebih muda dariku, kedua orang tuaku sangat menyukainya. Disamping karena ia lahir dari keluarga yang cukup terhormat, ketampanan pria itu rasanya sudah mulai memikat hatiku. Itu sebabnya aku langsung menyatakan setuju saat keluarga kami membicarakan waktu pernikahan.
Beberapa bulan kemudian, kami pun resmi menikah. Rasanya aku benar-benar hidup di dunia yang baru, lebih-lebih karena Mas Riyadi selalu memberikan perhatian penuh untukku. Meski keberadaanku masih tetap sebagai wanita karier, ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Bahkan, setiap hari ia biasa mengantar dan menjemputku di tempat kerja.
Namun, belakangan aku mulai berubah pikiran. Sebagai seorang istri, aku merasa perlu lebih banyak mendampingi suami daripada menghabiskan waktu di tempat kerja. Lebih-lebih karena aku sadar bahwa secara ekonomi, Mas Riyadi sudah cukup sehingga aku tidak perlu bekerja lagi, melainkan fokus melayani suami di rumah.
Pertimbangan itulah yang membuat aku akhirnya memutuskan resign dari tempat kerja. Aku sudah sangat bersyukur atas kehadiran suamiku dan merasa sudah saatnya memberikan waktu penuh untuknya di rumah. Sehari-hari aku hanya banyak menghabiskan waktu di rumah dengan membereskan tempat tidur, memasak, membersihkan halaman rumah, dan sebagainya.
CERAI SAAT HAMIL
Sebagai orang yang sangat menyayangi suami, setiap hari aku selalu menunggu kedatangan Mas Riyadi dari kantornya atau ketika ia sedang meeting di luar kota. Kadang diri ini tidak tenang saat ia datang terlalu malam dan SMS-ku tidak dibalas. Rasanya wajar kalau aku sering komplain karena kekhawatiran itu.
Namun, sikapku yang demikian itu ternyata tidak cocok pada diri Mas Riyadi. Setiap kali aku menanyakan, seringkali ia emosi dan menganggapku terlalu posesif. Padahal apa yang aku lakukan itu tidak lain hanyalah sebagai bentuk rasa cinta dan kasih sayangku padanya. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya.
Suatu ketika ia sedang mendatangi acara di Surabaya hingga dua hari meninggalkan rumah. Kegelisahan yang aku rasakan pun membuatku bertanya-tanya, kenapa hingga dua hari? Seringnya kegiatan di luar kota, Mas Riyadi pun akhirnya membuat aku semakin tidak tenang. Kadang aku komplain agar Mas Riyadi tidak bermalam di luar selama acaranya masih bisa dipercepat. Namun, sikapku yang demikian lagi-lagi ditanggapi negatif. Itu sebabnya diri ini kadang juga larut dalam emosi karena aku merasa bahwa perhatianku selama ini kurang berarti baginya.
Tapi entahlah, sikap emosi yang aku tampakkan padanya justru membuat suasana semakin keruh. Tiba-tiba saja Mas Riyadi memilih pulang ke rumah keluarganya hingga berhari-hari tidak mau kembali. Berkali-kali keluargaku mencoba untuk membujuknya agar kembali, namun tiada hasil.
Bahkan, beberapa hari kemudian, Mas Riyadi melontarkan kata-kata mengejutkan. Tiba-tiba saja ia menyatakan cerai. Padahal ketika itu aku sudah positif hamil tiga bulan. Sungguh, pernyataan itu membuat aku seperti disambar petir. Aku yang selama ini selalu menunggu kelahiran momongan, ternyata janin dalam perutku sudah lebih dulu ditinggal ayah kandungnya.
Prihatin memang. Tapi, apalah daya, pernyataan cerai dari diri Mas Riyadi sudah tidak bisa ditarik lagi. Sejak itulah aku merasa kehilangan semuanya. Pengorbanan yang aku lakukan selama ini terasa telah sia-sia. Bahkan, aku harus menanggung bayi dalam kandungan. Mudah-mudahan saja aku diberikan kesabaran menghadapi semua ini.  *02-kur (sebagaimana penuturan Sa’adah kepada NURANi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar