Rabu, 18 Februari 2015

Mertuaku, Wajahnya selalu Masam


Bagiku, berumah tangga tak hanya menjalin keharmonisan antara aku dan suami saja. Namun, hubungan antara keluargaku dan keluarga suamiku juga harus harmonis. Tapi, aku tak berdaya ketika kutahu, ibu mertuaku tak sebaik yang kubayangkan. Entahlah, setiap saat aku merasakan raut kebencian di mata ibu mertua saat melihatku di dekatnya. Astaghfirullah.

Pembaca Nurani yang dirahmati Allah, panggil saja namaku Gayatri. Aku tinggal di Jakarta Pusat. Sebagai anak terakhir dari pasangan ayah dan ibuku, aku termasuk anak yang dimanja, baik oleh orang tuaku ataupun kakak-kakakku.
Karena kemanjaan yang diberikan, nyaris tidak pernah sekali pun keinginanku dan pilihanku ditentang dan dipermasalahkan. Dimulai dari pilihanku untuk memilih tempat pendidikan, kakak-kakakku ditentukan harus sekolah di sekolah agama. Sementara, diriku dipersilahkan memilih di mana saja sesuai kehendak hatiku. Akhirnya berbeda dengan saudara-saudaraku, aku belajar di sekolah umum.
Menginjak masa kuliah, aku memutuskan untuk melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta. Saat-saat kuliah inilah aku berkenalan dengan pria yang menjadi suamiku saat ini, Wahyu (nama samaran).
Sama sepertiku, Wahyu yang asli Jakarta yang meneruskan kuliahnya di Yogyakarta. Sejak semester I, aku mengenalnya saat orientasi mahasiswa. Lama-kelamaan kami semakin akrab dan sering merencanakan pulang bareng agar punya teman ketika perjalanan.

TAK ADA KERAMAHAN
Kami juga sering saling bersilaturahim kepada keluarga kami masing-masing. Keluargaku yang memang selalu ramah kepada siapa pun menerima Wahyu dengan baik. Begitu pula saat aku bertamu di rumah Wahyu, semua keluarganya begitu ramah, kecuali ibunya. Entahlah, semenjak bertemu ada yang aneh. Senyumnya pelit, padahal aku sudah berupaya ramah. Ah, mungkin memang sikap beliau seperti itu, pikirku.
Keakraban antara aku dan Wahyu semakin intens hingga akhir masa kuliah dan wisuda. Akhirnya, Wahyu melamarku dan diterima dengan baik oleh keluargaku. Proses lamaran hingga pernikahan begitu singkat. Namun, dari prosesi yang dijalani, tidak pernah aku melihat ibu mertuaku turut hadir.
Aku sempat bertanya kepada Wahyu terkait hal ini. Namun, jawabnya, ibu mertuaku sengaja tidak ikut lantaran banyak hal yang perlu diurus di rumah. Usai menikah, aku dan suamiku memutuskan untuk tinggal di rumah suami bersama mertuaku. Alasannya, suamiku anak tunggal.

TIDAK NYAMAN
Di tempat tinggal baruku, aku ternyata merasa tidak nyaman. Sikap ibu mertuaku tidak berubah, dia jarang sekali menyapaku, bahkan untuk sekadar tersenyum saja tidak. Namun, meski demikian, aku tetap berusaha ramah dan menyapa terlebih dahulu meski hasilnya kurang menyenangkan.
Setelah aku menikah, selang dua bulan aku dinyatakan hamil. Suamiku melarangku berkarier dulu dengan alasan menjagaku dan buah hati kami. Otomatis aktivitas kulakukan sehari-hari di rumah bersama ibu mertua dan pekerja rumah tangga. Aku berupaya membantu memasak dan lain-lain.
Pernah suatu pagi, aku berusaha bangun pagi serta menyiapkan sarapan dibantu Bik Minem, pembantuku. Setelah semuanya siap, kusiapkan di meja makan hingga semua anggota keluarga bangun. Melihat makanan sudah tersedia di meja makan, ayah mertua dan suamiku dengan lahap makan. Sementara ibu mertuaku hanya sejenak duduk, mencicipi dan kemudian merespon dengan satu kalimat: "Masakan kok asin". Kemudian pergi ke dapur dan masak sendiri.

BUKAN MENANTU IDAMAN
Aku heran dengan sikap ibu mertuaku dan memberanikan diri bertanya kepada suamiku. Kemudian, baru suamiku menjelaskan kalau sebenarnya ibu mertuaku ingin agar Mas Wahyu menikah dengan perempuan pilihannya. Namun, karena Mas Wahyu sudah memilihku, jadi ibunya mengalah dan merestui hubungan kami. Meski kenyataannya, begini akhirnya.
Sikap ibu mertuaku semakin menjadi-jadi. Pandangannya kepadaku seakan melihat sesuatu yang menjijikkan. Pernah suatu hari aku duduk di depan televisi, usai aku ke kamar, langsung saja ibu mertuaku meminta Bik Minem untuk membersihkan tempat yang awalnya kugunakan untuk duduk. Jujur, hati ini serasa tersayat sembilu.
Banyak hal menyakitkan yang dilakukan ibu mertuaku untuk memperlihatkan kebenciannya kepadaku. Meski aku saat ini bisa bertahan, rasanya hati sesak menahan sakit. Entah, apa yang akhirnya terjadi dengan ketidakharmonisan hubungan kami. Sementara, kandunganku semakin membesar, aku tak ingin buah hatiku tak mendapatkan kasih sayang sang nenek. *02-nid (sebagaimana penuturan Gayatri kepada NURANi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar