Bagiku, berumah tangga tak hanya menjalin
keharmonisan antara aku dan suami saja. Namun, hubungan antara keluargaku dan
keluarga suamiku juga harus harmonis. Tapi, aku tak berdaya ketika kutahu, ibu
mertuaku tak sebaik yang kubayangkan. Entahlah, setiap saat aku merasakan raut
kebencian di mata ibu mertua saat melihatku di dekatnya. Astaghfirullah.
Pembaca Nurani yang dirahmati Allah,
panggil saja namaku Gayatri. Aku tinggal di
Jakarta Pusat. Sebagai anak terakhir dari pasangan ayah dan ibuku, aku termasuk
anak yang dimanja, baik oleh
orang tuaku ataupun kakak-kakakku.
Karena kemanjaan yang diberikan,
nyaris tidak pernah sekali pun keinginanku dan pilihanku ditentang dan
dipermasalahkan. Dimulai dari pilihanku untuk memilih tempat pendidikan,
kakak-kakakku ditentukan harus sekolah di sekolah agama. Sementara, diriku
dipersilahkan memilih di mana saja sesuai kehendak hatiku. Akhirnya berbeda
dengan saudara-saudaraku, aku belajar di sekolah umum.
Menginjak masa kuliah, aku
memutuskan untuk melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi terkemuka di
Yogyakarta. Saat-saat kuliah inilah aku berkenalan dengan pria yang menjadi
suamiku saat ini, Wahyu (nama samaran).
Sama sepertiku, Wahyu yang asli
Jakarta yang meneruskan kuliahnya di Yogyakarta. Sejak semester I, aku
mengenalnya saat orientasi mahasiswa. Lama-kelamaan kami semakin akrab dan
sering merencanakan pulang bareng agar punya teman ketika perjalanan.
TAK ADA KERAMAHAN
Kami juga sering saling
bersilaturahim kepada keluarga kami masing-masing. Keluargaku yang memang
selalu ramah kepada siapa pun menerima Wahyu dengan baik. Begitu pula saat aku
bertamu di rumah Wahyu, semua keluarganya begitu ramah, kecuali ibunya. Entahlah,
semenjak bertemu ada yang aneh. Senyumnya pelit, padahal aku sudah berupaya
ramah. Ah, mungkin memang sikap beliau seperti itu, pikirku.
Keakraban antara aku dan Wahyu
semakin intens hingga akhir masa kuliah dan wisuda. Akhirnya, Wahyu melamarku
dan diterima dengan baik oleh keluargaku. Proses lamaran hingga pernikahan
begitu singkat. Namun, dari prosesi yang dijalani,
tidak pernah aku melihat ibu mertuaku turut hadir.
Aku sempat bertanya kepada Wahyu
terkait hal ini. Namun, jawabnya, ibu
mertuaku sengaja tidak ikut lantaran banyak hal yang perlu diurus di rumah.
Usai menikah, aku dan suamiku memutuskan untuk tinggal di rumah suami bersama
mertuaku. Alasannya, suamiku anak tunggal.
TIDAK NYAMAN
Di tempat tinggal baruku, aku
ternyata merasa tidak nyaman. Sikap ibu mertuaku tidak berubah, dia jarang
sekali menyapaku, bahkan untuk
sekadar tersenyum saja tidak. Namun, meski demikian, aku
tetap berusaha ramah dan menyapa terlebih dahulu meski hasilnya kurang
menyenangkan.
Setelah aku menikah, selang dua bulan
aku dinyatakan hamil. Suamiku melarangku berkarier
dulu dengan alasan menjagaku dan buah hati kami. Otomatis aktivitas kulakukan
sehari-hari di rumah bersama ibu mertua dan pekerja rumah tangga. Aku berupaya
membantu memasak dan lain-lain.
Pernah suatu pagi, aku berusaha
bangun pagi serta menyiapkan sarapan dibantu Bik Minem, pembantuku. Setelah
semuanya siap, kusiapkan di meja makan hingga semua anggota keluarga bangun.
Melihat makanan sudah tersedia di meja makan, ayah mertua dan suamiku dengan
lahap makan. Sementara ibu mertuaku hanya sejenak duduk, mencicipi dan kemudian
merespon dengan satu kalimat: "Masakan kok asin".
Kemudian pergi ke dapur dan masak sendiri.
BUKAN MENANTU IDAMAN
Aku heran dengan sikap ibu mertuaku dan
memberanikan diri bertanya kepada suamiku. Kemudian, baru suamiku menjelaskan
kalau sebenarnya ibu mertuaku ingin agar Mas Wahyu menikah dengan perempuan
pilihannya. Namun, karena Mas Wahyu sudah memilihku,
jadi ibunya mengalah dan merestui hubungan kami. Meski kenyataannya,
begini akhirnya.
Sikap ibu mertuaku semakin
menjadi-jadi. Pandangannya kepadaku seakan melihat sesuatu yang menjijikkan.
Pernah suatu hari aku duduk di depan televisi, usai aku ke kamar,
langsung saja ibu mertuaku meminta Bik Minem untuk membersihkan tempat yang
awalnya kugunakan untuk duduk. Jujur, hati ini serasa tersayat sembilu.
Banyak hal menyakitkan yang dilakukan ibu mertuaku untuk memperlihatkan
kebenciannya kepadaku. Meski aku saat ini bisa bertahan, rasanya hati sesak menahan
sakit. Entah, apa yang akhirnya terjadi dengan ketidakharmonisan hubungan kami.
Sementara, kandunganku semakin membesar, aku
tak ingin buah hatiku tak mendapatkan kasih sayang sang nenek. *02-nid (sebagaimana
penuturan Gayatri kepada NURANi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar