Rumah
tangga yang aku bina memang masih seumur jagung. Tapi, aku merasa bahwa
pernikahanku seperti tidak bernyawa lantaran kondisi kesehatanku yang selalu
menurun. Hingga kini aku belum pernah sekalipun disentuh oleh suamiku. Suamiku
mengaku menikahiku bukan karena cinta padaku, melainkan adanya perjanjian
dengan ibuku.
Mungkin
ini menjadi cobaan terberat dalam hidupku. Pernikahanku memang masih seumur
jagung. Tapi, praktis sejak akad nikah hingga kini, aku sama sekali tak
disentuh suamiku. Dia lebih memilih menghindar dan sama sekali tak memberikan
perhatian padaku.
Sebuh
saja namaku Risa, aku menikah dengan seorang pria bernama Zaki. Dia adalah pria
yang kukenal dari salah seorang temanku. Perkenalanku dengan Mas Zaki terbilang
sangat singkat. Pertemuan yang bisa dihitung dengan jari membuatku ingin
mengenalinya lebih dalam lagi. Namun, dari perkenalan singkat tersebut, muncullah
benih-benih cinta dalam hatiku. Ada perasaan lebih yang kurasakan ketika
bertemu dengan Mas Zaki.
Tapi,
hal itu berbeda dengan kenyataannya, lambat laun aku mengetahui bahwa Mas Zaki
ternyata tidak menaruh hati padaku. Timbul rasa kecewa memang, namun semua itu
tidak aku pikirkan lantaran mungkin melihat kondisiku yang membuatnya tidak
menaruh hati padaku. Ya, kondisiku memang sedang tidak baik. Sejak kecil aku
telah divonis dokter menderita lupus. Penyakit yang hingga kini belum ada
obatnya, penyakit ini juga yang membuatku kini sering keluar masuk rumah sakit
dikarenakan kondisiku yang setiap saat menurun.
SEBUAH
PERJANJIAN
Aku
merasa tidak memiliki harapan untuk bisa memiliki Mas Zaki hingga akhirnya aku
menceritakan masalah ini ke ibuku. Mendengar semua ceritaku, lantas ibuku
mencoba untuk menemui Mas Zaki. Aku tidak tahu apa saja yang dibicarakan orang
tuaku dengannya. Dari awal aku memang tidak begitu mengharapkan Mas Zaki kelak
bisa menjadi suamiku.
Namun,
entah keajaiban apa yang terjadi padaku, Mas Zaki yang sebelumnya aku tahu dia
tidak ingin menerima cintaku dan menikah denganku tiba-tiba memilih untuk
menikahiku. Sungguh, aku tidak tahu kebahagiaan seperti apa yang aku rasakan
saat itu. Seperti ada keajaiban dan semangat hidup baru. Dan, akhirnya
pernikahan itu terjadi.
Keanehan
justru terjadi setelah pernikahanku. Mas Zaki tampak seperti robot di dalam
rumahku. Seperti ada suatu hal yang disembunyikan dari dalam dirinya. Aku pun
memberanikan diri untuk bertanya pada dirinya. “Mas, apakah ada yang salah pada
diriku ?” ia hanya menjawab, ”Coba saja kamu tanyakan semua ini kepada ibumu.”
Jawaban
yang diberikan Mas Zaki benar-benar membuatku selalu berpikir apa yang telah
dilakukan orang tuaku. Aku lalu memberanikan diri bertanya kepada ibuku. Dan
ternyata, jawabannya di luar dugaanku. Ternyata Mas Zaki bersedia menikahiku
karena terikat perjanjian dengan ibuku yang telah berjanji akan membiayai semua
pendidikan doktoral Mas Zaki hingga keluar negeri jika Mas Zaki mau menikah
dengan aku.
Sungguh
sakit hati ini mengetahui kenyataan itu. Padahal, aku sangat mencintai Mas Zaki.
Namun, ternyata perasaanku bertepuk sebelah tangan. Aku baru menyadari ternyata
suamiku sama sekali tak ada rasa cinta padaku.
AKU
SAKIT
Kondisi
kesehatanku sejak saat itu mengalami penurunan. Aku merasa seperti wanita yang
tidak berguna di hadapan suamiku. Ia memilih menikahiku karena permintaan dan
janji yang diberikan ibuku bukan berdasarkan rasa cinta yang ia miliki
terhadapku.
Karena
kondisiku inilah hingga kini aku sama sekali belum pernah disentuh oleh
suamiku. Meskipun tinggal satu rumah, namun ia memilih untuk tidak tidur
seranjang denganku. Aku yang tidak berdaya ini hanya dapat tertidur lemas di
tempat tidur. Banyaknya pikiran yang selalu menghantuiku membuat kondisi
kesehatanku menurun dan mengharuskanku masuk dan keluar rumah sakit.
Ya
Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin sekali merasakan hidup berumah
tangga yang bahagia dengan suamiku tercinta. Namun, apa daya, kondisiku yang
membuatku harus merasakan seperti ini. Meskipun suamiku tidak mencintaiku
sepenuhnya, aku tetap ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku
ingin melayani suamiku sekuat tenagaku.
Pembaca
yang dirahmati Allah SWT, aku mohon doanya untuk kesembuhanku. Meskipun suamiku
menikahiku karena suatu hal, aku tetap ingin menjadi istrinya yang selalu ada
untuknya. Aku selalu berdoa semoga Allah SWT membantuku dan memberikanku
kesabaran dengan segala ujiannya. Amin *02-nis
(Sebagaimana penuturan Risa kepada tabloid NURANi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar