Rabu, 18 Februari 2015

Menderita Lupus, Aku Tak Disentuh Suami


Rumah tangga yang aku bina memang masih seumur jagung. Tapi, aku merasa bahwa pernikahanku seperti tidak bernyawa lantaran kondisi kesehatanku yang selalu menurun. Hingga kini aku belum pernah sekalipun disentuh oleh suamiku. Suamiku mengaku menikahiku bukan karena cinta padaku, melainkan adanya perjanjian dengan ibuku.

Mungkin ini menjadi cobaan terberat dalam hidupku. Pernikahanku memang masih seumur jagung. Tapi, praktis sejak akad nikah hingga kini, aku sama sekali tak disentuh suamiku. Dia lebih memilih menghindar dan sama sekali tak memberikan perhatian padaku.
Sebuh saja namaku Risa, aku menikah dengan seorang pria bernama Zaki. Dia adalah pria yang kukenal dari salah seorang temanku. Perkenalanku dengan Mas Zaki terbilang sangat singkat. Pertemuan yang bisa dihitung dengan jari membuatku ingin mengenalinya lebih dalam lagi. Namun, dari perkenalan singkat tersebut, muncullah benih-benih cinta dalam hatiku. Ada perasaan lebih yang kurasakan ketika bertemu dengan Mas Zaki.
Tapi, hal itu berbeda dengan kenyataannya, lambat laun aku mengetahui bahwa Mas Zaki ternyata tidak menaruh hati padaku. Timbul rasa kecewa memang, namun semua itu tidak aku pikirkan lantaran mungkin melihat kondisiku yang membuatnya tidak menaruh hati padaku. Ya, kondisiku memang sedang tidak baik. Sejak kecil aku telah divonis dokter menderita lupus. Penyakit yang hingga kini belum ada obatnya, penyakit ini juga yang membuatku kini sering keluar masuk rumah sakit dikarenakan kondisiku yang setiap saat menurun.



SEBUAH PERJANJIAN
Aku merasa tidak memiliki harapan untuk bisa memiliki Mas Zaki hingga akhirnya aku menceritakan masalah ini ke ibuku. Mendengar semua ceritaku, lantas ibuku mencoba untuk menemui Mas Zaki. Aku tidak tahu apa saja yang dibicarakan orang tuaku dengannya. Dari awal aku memang tidak begitu mengharapkan Mas Zaki kelak bisa menjadi suamiku.
Namun, entah keajaiban apa yang terjadi padaku, Mas Zaki yang sebelumnya aku tahu dia tidak ingin menerima cintaku dan menikah denganku tiba-tiba memilih untuk menikahiku. Sungguh, aku tidak tahu kebahagiaan seperti apa yang aku rasakan saat itu. Seperti ada keajaiban dan semangat hidup baru. Dan, akhirnya pernikahan itu terjadi.
Keanehan justru terjadi setelah pernikahanku. Mas Zaki tampak seperti robot di dalam rumahku. Seperti ada suatu hal yang disembunyikan dari dalam dirinya. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada dirinya. “Mas, apakah ada yang salah pada diriku ?” ia hanya menjawab, ”Coba saja kamu tanyakan semua ini kepada ibumu.”
Jawaban yang diberikan Mas Zaki benar-benar membuatku selalu berpikir apa yang telah dilakukan orang tuaku. Aku lalu memberanikan diri bertanya kepada ibuku. Dan ternyata, jawabannya di luar dugaanku. Ternyata Mas Zaki bersedia menikahiku karena terikat perjanjian dengan ibuku yang telah berjanji akan membiayai semua pendidikan doktoral Mas Zaki hingga keluar negeri jika Mas Zaki mau menikah dengan aku.
Sungguh sakit hati ini mengetahui kenyataan itu. Padahal, aku sangat mencintai Mas Zaki. Namun, ternyata perasaanku bertepuk sebelah tangan. Aku baru menyadari ternyata suamiku sama sekali tak ada rasa cinta padaku.

AKU SAKIT
Kondisi kesehatanku sejak saat itu mengalami penurunan. Aku merasa seperti wanita yang tidak berguna di hadapan suamiku. Ia memilih menikahiku karena permintaan dan janji yang diberikan ibuku bukan berdasarkan rasa cinta yang ia miliki terhadapku.
Karena kondisiku inilah hingga kini aku sama sekali belum pernah disentuh oleh suamiku. Meskipun tinggal satu rumah, namun ia memilih untuk tidak tidur seranjang denganku. Aku yang tidak berdaya ini hanya dapat tertidur lemas di tempat tidur. Banyaknya pikiran yang selalu menghantuiku membuat kondisi kesehatanku menurun dan mengharuskanku masuk dan keluar rumah sakit.
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin sekali merasakan hidup berumah tangga yang bahagia dengan suamiku tercinta. Namun, apa daya, kondisiku yang membuatku harus merasakan seperti ini. Meskipun suamiku tidak mencintaiku sepenuhnya, aku tetap ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku ingin melayani suamiku sekuat tenagaku.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT, aku mohon doanya untuk kesembuhanku. Meskipun suamiku menikahiku karena suatu hal, aku tetap ingin menjadi istrinya yang selalu ada untuknya. Aku selalu berdoa semoga Allah SWT membantuku dan memberikanku kesabaran dengan segala ujiannya. Amin  *02-nis (Sebagaimana penuturan Risa kepada tabloid NURANi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar