Rabu, 18 Februari 2015

Suamiku Bermain Hati dengan Sepupuku


Sebenarnya, bukan salahku hingga semua ini terjadi. Suamiku berubah sejak kedatangannya. Aku dikhianati. Ternyata suamiku telah bermain hati di belakangku bersama sepupuku sendiri.

Di sudut ruang kamar, aku hanya bisa bersimpuh kepada Allah. Kuingin tumpahkan segala keluh kesah ini kepada-Nya. Aku hanya bisa bersabar. Waktu demi waktu aku lalui dengan perasaan sedih bercampur marah atas apa yang sudah suamiku lakukan kepada diriku. Dito,  suami yang dulu kucintai, pernah memadu kasih dengan sepupuku sendiri. Aku marah terhadap suamiku. Begitu mudahnya ia melakukan perbuatan itu di depan anakku sendiri.

KEDATANGAN SEPUPU
Kisahku bermula ketika April 2013, Mira, sepupuku dari luar kota datang karena hendak menyelesaikan pekerjaan di Semarang. Untuk itu, karena jarak kantor dengan tempat tinggalku terbilang dekat, lantas aku mengajaknya untuk tinggal bersama kami. Itu pun atas izin dari suamiku.
Tak lama setelah itu, Mira datang dan tinggal beberapa bulan di rumahku. Aku senang, karena sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Sejak kecl kami memang sudah dekat. Usia kami pun tidaklah terlalu jauh. Saat pernikahanku, Mira pun menghadiri pernikahan kami. Mira adalah wanita yang baik, wajahnya cantik, kulitnya putih halus, dan memiliki pekerjaan yang mapan. Namun karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, di usia yang tidak lagi muda, hingga kini Mira belum juga memiliki keinginan untuk menikah.
Di rumah, aku hanya tinggal bertiga bersama suamiku dan Yoga, anakku satu-satunya. Usianya yang kini beranjak 4 tahun menjadi peramai suasana di rumah. Aku kini bekerja di salah satu perusahaan asuransi di Semarang, sedangkan suamiku bekerja di perusahaan swasta juga di Semarang. Setiap kali kami bekerja, Yoga selalu aku titipkan kepada ibuku.

MENITIPKAN ANAKKU
Namun tidak tahu kenapa, suatu hari aku tidak sempat menitipkan Yoga ke rumah ibuku. Aku lantas menitipkan Yoga bersama Mira, karena sewaktu itu ia sedang bebas tugas dari pekerjaannya. Mira pun tidak keberatan untuk ditinggal bersama Yoga. Aku sedikit tenang karena Mira mau membantuku menjaga Yoga.
Saat itu, beberapa hari aku memang pulang sedikit larut malam. Suamiku hanya berdua bersama Mira di rumah. Aku tidak pernah menaruh curiga sedikitpun kepada Mira meskipun aku meninggalkan suamiku berdua saja dengannya. Aku percaya kepada mereka. Namun, lambat laun aku mencium sesuatu yang tidak beres saat berada di rumah. Mira terlihat sering berada di rumah, begitupun dengan suamiku.
Suamiku mendadak sering pulang cepat dan membawa makanan dari luar. Makanan yang dibawa pun adalah makanan kesukaan Mira. Tiap kali kami makan bersama di meja makan, terlihat mereka saling melirik satu sama lain. Bahkan bercanda tertawa lepas. Saat itu, ada sedikit rasa curiga dalam pikiranku. Tapi dalam sekejap aku singkirkan perasaan itu.
Suatu saat, di hari libur yang menyenangkan bersama keluarga tercinta, aku sedang asyik merapikan kamar bersama Yoga. Dengan ekspresi tanda tanya yang tampak jelas pada wajah Yoga, lantas ia bertanya kepadaku. “Ma, papa kok sering masuk ke kamarnya tante Mira?” tanya Yoga kepadaku.
Dengan wajah yang kaget, aku lantas menjawab pertanyaan Yoga. “Mungkin Tante Mira butuh bantuan ke papa, Sayang. Itu kenapa papa masuk ke kamar Tante Mira,” jawabku dengan lembut.
“Tapi Ma, papa keluar dari kamar Tante Mira lama ma. Yoga sering liat waktu lagi nonton tv,” tanya Yoga lagi.

MEMILIH BERPISAH
Dengan perasaan yang penuh curiga, aku langsung mendatangi suamiku dan mengatakan apa yang telah dilihat oleh anakku. Dengan hati penuh emosi, aku menangis di hadapan suamiku dan bertanya apa yang selama ini sudah dilakukan olehnya bersama Mira di belakangku.
Masih dalam hati yang penuh emosi, suamiku akhirnya mengatakan dengan jujur bahwa mereka memang telah bermain hati di belakangku. Suamiku mengaku memang sering datang ke kamar Mira. Ia mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepada Mira, begitupun dengan Mira.
Ya Allah, berani sekali suamiku mengkhianatiku dengan sepupuku sendiri. Saat itu juga Mira kupanggil ke kamar dan meminta penjelasan dari dirinya tentang hubungan ini. Dengan rasa bersalah, Mira mengakui apa yang telah dikatakan oleh suamiku. Ia juga mengatakan bahwa ia menyukai suamiku.
Hatiku sangat hancur mendengar pernyataan mereka berdua. Aku tidak menyangka kebaikanku justru menjadi boomerang bagi diriku sendiri. Suamiku dan Mira mengaku salah kepadaku. Mereka berdua meminta maaf di hadapanku. Mereka berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.  Tak sanggup aku memaafkan mereka. Terlalu sakit aku melihat pendengar perbuatan mereka.
Dengan rasa sakit hatiku yang mendalam, aku hanya bisa diam di hadapan mereka.
Setelah kejadian itu, Mira lantas berpamitan pulang dan hingga kini kami tidak pernah berhubungan sama sekali. Sedangkan suamiku, dia tampak berusaha bersikap baik kepadaku, meskipun sesungguhnya aku sudah memaafkan dirinya. Bagiku, kejadian itu biarkah menjadi pelajaran dalam rumah tanggaku. Kini, aku telah hidup terpisah dengan suamiku. *02/Nis (sebagaimana penuturan Nanda kepada NURANi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar