Sebenarnya,
bukan salahku hingga semua ini terjadi. Suamiku berubah sejak kedatangannya.
Aku dikhianati. Ternyata suamiku telah bermain hati di belakangku bersama
sepupuku sendiri.
Di sudut ruang
kamar, aku hanya bisa bersimpuh kepada Allah. Kuingin tumpahkan segala keluh
kesah ini kepada-Nya. Aku hanya bisa bersabar. Waktu demi waktu aku lalui
dengan perasaan sedih bercampur marah atas apa yang sudah suamiku lakukan
kepada diriku. Dito, suami yang dulu
kucintai, pernah memadu kasih dengan sepupuku sendiri. Aku marah terhadap
suamiku. Begitu mudahnya ia melakukan perbuatan itu di depan anakku sendiri.
KEDATANGAN
SEPUPU
Kisahku bermula
ketika April 2013, Mira, sepupuku dari luar kota datang karena hendak
menyelesaikan pekerjaan di Semarang. Untuk itu, karena jarak kantor dengan
tempat tinggalku terbilang dekat, lantas aku mengajaknya untuk tinggal bersama
kami. Itu pun atas izin dari suamiku.
Tak lama setelah
itu, Mira datang dan tinggal beberapa bulan di rumahku. Aku senang, karena
sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Sejak kecl kami memang sudah dekat.
Usia kami pun tidaklah terlalu jauh. Saat pernikahanku, Mira pun menghadiri
pernikahan kami. Mira adalah wanita yang baik, wajahnya cantik, kulitnya putih
halus, dan memiliki pekerjaan yang mapan. Namun karena terlalu sibuk dengan
pekerjaannya, di usia yang tidak lagi muda, hingga kini Mira belum juga
memiliki keinginan untuk menikah.
Di rumah, aku
hanya tinggal bertiga bersama suamiku dan Yoga, anakku satu-satunya. Usianya
yang kini beranjak 4 tahun menjadi peramai suasana di rumah. Aku kini bekerja
di salah satu perusahaan asuransi di Semarang, sedangkan suamiku bekerja di
perusahaan swasta juga di Semarang. Setiap kali kami bekerja, Yoga selalu aku
titipkan kepada ibuku.
MENITIPKAN
ANAKKU
Namun tidak tahu
kenapa, suatu hari aku tidak sempat menitipkan Yoga ke rumah ibuku. Aku lantas
menitipkan Yoga bersama Mira, karena sewaktu itu ia sedang bebas tugas dari
pekerjaannya. Mira pun tidak keberatan untuk ditinggal bersama Yoga. Aku
sedikit tenang karena Mira mau membantuku menjaga Yoga.
Saat itu,
beberapa hari aku memang pulang sedikit larut malam. Suamiku hanya berdua
bersama Mira di rumah. Aku tidak pernah menaruh curiga sedikitpun kepada Mira
meskipun aku meninggalkan suamiku berdua saja dengannya. Aku percaya kepada
mereka. Namun, lambat laun aku mencium sesuatu yang tidak beres saat berada di
rumah. Mira terlihat sering berada di rumah, begitupun dengan suamiku.
Suamiku mendadak
sering pulang cepat dan membawa makanan dari luar. Makanan yang dibawa pun
adalah makanan kesukaan Mira. Tiap kali kami makan bersama di meja makan,
terlihat mereka saling melirik satu sama lain. Bahkan bercanda tertawa lepas.
Saat itu, ada sedikit rasa curiga dalam pikiranku. Tapi dalam sekejap aku
singkirkan perasaan itu.
Dengan wajah
yang kaget, aku lantas menjawab pertanyaan Yoga. “Mungkin Tante Mira butuh
bantuan ke papa, Sayang. Itu kenapa papa masuk ke kamar Tante Mira,” jawabku
dengan lembut.
“Tapi Ma, papa
keluar dari kamar Tante Mira lama ma. Yoga sering liat waktu lagi nonton tv,”
tanya Yoga lagi.
MEMILIH BERPISAH
Dengan perasaan
yang penuh curiga, aku langsung mendatangi suamiku dan mengatakan apa yang
telah dilihat oleh anakku. Dengan hati penuh emosi, aku menangis di hadapan
suamiku dan bertanya apa yang selama ini sudah dilakukan olehnya bersama Mira
di belakangku.
Masih dalam hati
yang penuh emosi, suamiku akhirnya mengatakan dengan jujur bahwa mereka memang
telah bermain hati di belakangku. Suamiku mengaku memang sering datang ke kamar
Mira. Ia mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepada Mira, begitupun dengan Mira.
Ya Allah, berani
sekali suamiku mengkhianatiku dengan sepupuku sendiri. Saat itu juga Mira
kupanggil ke kamar dan meminta penjelasan dari dirinya tentang hubungan ini.
Dengan rasa bersalah, Mira mengakui apa yang telah dikatakan oleh suamiku. Ia
juga mengatakan bahwa ia menyukai suamiku.
Hatiku sangat
hancur mendengar pernyataan mereka berdua. Aku tidak menyangka kebaikanku
justru menjadi boomerang bagi diriku sendiri. Suamiku dan Mira mengaku salah
kepadaku. Mereka berdua meminta maaf di hadapanku. Mereka berjanji tidak akan
mengulangi perbuatan itu lagi. Tak
sanggup aku memaafkan mereka. Terlalu sakit aku melihat pendengar perbuatan
mereka.
Dengan rasa
sakit hatiku yang mendalam, aku hanya bisa diam di hadapan mereka.
Setelah kejadian
itu, Mira lantas berpamitan pulang dan hingga kini kami tidak pernah
berhubungan sama sekali. Sedangkan suamiku, dia tampak berusaha bersikap baik
kepadaku, meskipun sesungguhnya aku sudah memaafkan dirinya. Bagiku, kejadian
itu biarkah menjadi pelajaran dalam rumah tanggaku. Kini, aku telah hidup
terpisah dengan suamiku. *02/Nis (sebagaimana penuturan Nanda kepada
NURANi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar