Kebaikan suamiku kepada mantan
kekasihnya ternyata berujung malapetaka bagi rumah tangga kami. Jika awalnya
mereka hanya mengikat tali silaturahim, tak kusangka jika mantan kekasih
suamiku, kemudian meminta untuk dijadikan istri kedua. Apa yang harus aku lakukan?
Salahkah bila aku marah dan cemburu?
Aku telah lama menikah dengan
suamiku. Bisa dibilang pernikahan kami sudah berjalan selama 8 tahun.
Perkenalanku dengan suamiku bermula dari suatu komunitas yang akhirnya
berlanjut ke pertemanan hingga akhirnya kami menikah pada tahun 2006.
Usia suamiku, Adhi terpaut cukup
jauh dengan diriku, yaitu 12 tahun. Perbedaan usia tidak menghalangi rasa cinta
kami untuk selalu menyayangi. Suamiku sangat bijaksana. Ia juga memiliki sifat
yang sangat baik kepada semua orang, termasuk kepada mantan kekasihnya sewaktu
di bangku kuliah.
Baik dengan Mantan Kekasih
Selama ini aku memang tahu bahwa
mantan kekasihnya selalu menghubungi suamiku. Namun aku selalu berfikir positif
mengenai masalah ini. “Ah, paling mereka hanya bertegur sapa. Apa salahnya
menjalin silaturahim,” ucapnku dalam hati.
Tapi, ternyata pikiranku selama
ini salah. Kebaikan suamiku berujung cemburu pada diriku. Mantan kekasih
suamiku terus menerus menghubungi suamiku, seolah ingin merebut kembali dia
dariku.
Memang dari yang ku ketahui,
wanita tersebut sangat menginginkan dan masih mencintai suamiku. Meskipun dia
tahu aku telah menikah dengan Adhi, ia selalu saja mendekati suamiku. Sampai
pada suatu ketika, aku tidak sengaja melihat pesan yang ada di hanphone
suamiku. Aku membaca semua pesannya kepada wanita itu.
Dari yang kubaca, suamiku sangat
intens berhubungan dengan wanita itu. Awal curahan hati wanita tersebut menjadi
petaka bagi keluarga kami. Ia mengatakan jika ingin menjadi istri kedua
suamiku. Ia rela jika menjadi istri kedua. Aku sangat cemburu dengan
permintaannya. Apalagi saat mengetahui bahwa ia seorang janda dengan satu anak.
Ada rasa emosi saat melihat perhatian-perhatian yang diberikan suamiku kepada
wanita tersebut.
Ya Tuhan, aku tahu sifat baik
suamiku, namun kenapa kebaikan yang ada pada diri suamiku harus dibalas seperti
ini. Sejujurnya aku tidak tahan melihat kebaikan suamiku yang seperti ini. Kuakui
diriku cemburu dengan perlakuan suamiku ke mantan-mantan kekasihnya.
Belum Dikaruniai Anak
Mungkin ini semua kembali menjadi
kesalahan diriku sendiri. Delapan tahun kami menikah, hingga kini aku belum
juga dikaruniai seorang anak. Segala cara telah kami usahakan, namun tetap tak
kunjung diberikan buah hati kepada kami. Penuh rasa iri jika kulihat keluarga
yang telah memiliki anak. Namun aku tetap percaya, ada saatnya Allah SWT
memberikan kepercayaan itu kepada kami. Suamiku pun tidak pernah
mempermasalahkan tentang ini.
Tapi sebagai seorang istri, aku
sangat ingin membahagiakan suamiku dengan memberinya seorang anak. Aku pun
sudah lama sangat menginginkan seorang bayi. Beruntungnya, keluargaku dan
keluarga Adhi juga tidak mempermasalahkan tentang anak. Mereka selalu berharap
akan adanya keajaiban. Aku yakin, Allah sudah merencanakan itu semua.
Ada hal yang membuatku sangat
sakit hati ketika membaca pesan suamiku dengan mantan kekasihnya yang seorang
janda. Dari pesan itu seperti diremehkan karena tidak bisa memberikan keturunan
kepada suamiku. Ia lantas menggoda suamiku, jika ia menikah dengannya, ia
berjanji akan memberika satu hingga tiga anak kepada suamiku.
Hatiku menangis membaca pesan
itu. Tapi saat suamiku tahu aku telah membaca semua isi pesannya kepada mantan
kekasihnya, suamiku meminta maaf kepadaku dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan
tersebut. Ia berjanji kepadaku akan menjauh dari mantan kekasihnya. Aku percaya
sepenuhnya dengan suamiku. Aku tahu suamiku sebenarnya tidak bermaksud seperti
itu. Hanya saja mungkin kebaikannya disalahartikan oleh mantan kekasihnya tersebut.
*02/Nis (sebagaimana penuturan Dita kepada NURANi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar