Rabu, 18 Februari 2015

Astaghfirullah, Suamiku Tergoda Mantan Kekasihnya



Kebaikan suamiku kepada mantan kekasihnya ternyata berujung malapetaka bagi rumah tangga kami. Jika awalnya mereka hanya mengikat tali silaturahim, tak kusangka jika mantan kekasih suamiku, kemudian meminta untuk dijadikan istri kedua. Apa yang harus aku lakukan? Salahkah bila aku marah dan cemburu?

Aku telah lama menikah dengan suamiku. Bisa dibilang pernikahan kami sudah berjalan selama 8 tahun. Perkenalanku dengan suamiku bermula dari suatu komunitas yang akhirnya berlanjut ke pertemanan hingga akhirnya kami menikah pada tahun 2006.
Usia suamiku, Adhi terpaut cukup jauh dengan diriku, yaitu 12 tahun. Perbedaan usia tidak menghalangi rasa cinta kami untuk selalu menyayangi. Suamiku sangat bijaksana. Ia juga memiliki sifat yang sangat baik kepada semua orang, termasuk kepada mantan kekasihnya sewaktu di bangku kuliah.

Baik dengan Mantan Kekasih
Selama ini aku memang tahu bahwa mantan kekasihnya selalu menghubungi suamiku. Namun aku selalu berfikir positif mengenai masalah ini. “Ah, paling mereka hanya bertegur sapa. Apa salahnya menjalin silaturahim,” ucapnku dalam hati.
Tapi, ternyata pikiranku selama ini salah. Kebaikan suamiku berujung cemburu pada diriku. Mantan kekasih suamiku terus menerus menghubungi suamiku, seolah ingin merebut kembali dia dariku.
Memang dari yang ku ketahui, wanita tersebut sangat menginginkan dan masih mencintai suamiku. Meskipun dia tahu aku telah menikah dengan Adhi, ia selalu saja mendekati suamiku. Sampai pada suatu ketika, aku tidak sengaja melihat pesan yang ada di hanphone suamiku. Aku membaca semua pesannya kepada wanita itu.
Dari yang kubaca, suamiku sangat intens berhubungan dengan wanita itu. Awal curahan hati wanita tersebut menjadi petaka bagi keluarga kami. Ia mengatakan jika ingin menjadi istri kedua suamiku. Ia rela jika menjadi istri kedua. Aku sangat cemburu dengan permintaannya. Apalagi saat mengetahui bahwa ia seorang janda dengan satu anak. Ada rasa emosi saat melihat perhatian-perhatian yang diberikan suamiku kepada wanita tersebut.
Mengetahui hal ini, lantas membuatku emosi dan menyalahkan suamiku. Bagaimana tidak, jika dari awal suamiku tidak membalas pesan wanita itu mungkin hal ini tidak pernah terjadi. Dan ternyata, wanita ini bukanlah wanita pertama yang kembali menggoda suamiku. Wanita yang bekerja sebagai seorang dosen di salah satu universitas di Jawa Timur ini tiba-tiba datang menghubungi suamiku. Ia lantas menggoda suamiku untuk kembali bersamanya.
Ya Tuhan, aku tahu sifat baik suamiku, namun kenapa kebaikan yang ada pada diri suamiku harus dibalas seperti ini. Sejujurnya aku tidak tahan melihat kebaikan suamiku yang seperti ini. Kuakui diriku cemburu dengan perlakuan suamiku ke mantan-mantan kekasihnya.

Belum Dikaruniai Anak
Mungkin ini semua kembali menjadi kesalahan diriku sendiri. Delapan tahun kami menikah, hingga kini aku belum juga dikaruniai seorang anak. Segala cara telah kami usahakan, namun tetap tak kunjung diberikan buah hati kepada kami. Penuh rasa iri jika kulihat keluarga yang telah memiliki anak. Namun aku tetap percaya, ada saatnya Allah SWT memberikan kepercayaan itu kepada kami. Suamiku pun tidak pernah mempermasalahkan tentang ini.
Tapi sebagai seorang istri, aku sangat ingin membahagiakan suamiku dengan memberinya seorang anak. Aku pun sudah lama sangat menginginkan seorang bayi. Beruntungnya, keluargaku dan keluarga Adhi juga tidak mempermasalahkan tentang anak. Mereka selalu berharap akan adanya keajaiban. Aku yakin, Allah sudah merencanakan itu semua.
Ada hal yang membuatku sangat sakit hati ketika membaca pesan suamiku dengan mantan kekasihnya yang seorang janda. Dari pesan itu seperti diremehkan karena tidak bisa memberikan keturunan kepada suamiku. Ia lantas menggoda suamiku, jika ia menikah dengannya, ia berjanji akan memberika satu hingga tiga anak kepada suamiku.
Hatiku menangis membaca pesan itu. Tapi saat suamiku tahu aku telah membaca semua isi pesannya kepada mantan kekasihnya, suamiku meminta maaf kepadaku dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Ia berjanji kepadaku akan menjauh dari mantan kekasihnya. Aku percaya sepenuhnya dengan suamiku. Aku tahu suamiku sebenarnya tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja mungkin kebaikannya disalahartikan oleh mantan kekasihnya tersebut. *02/Nis (sebagaimana penuturan Dita kepada NURANi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar